Selasa, 01 Mei 2012

COCOMO

COCOMO (Constructive Cost Model) dikembangkan pada tahun 1981, oleh Barry Boehm memperkenalkan hirarki model estimasi PL dengan nama COCOMO, Barry Boehm mendesain COCOMO untuk memberikan estimasi / perkiraan jumlah Person-Months untuk mengembangkan suatu produk software. Referensi pada model ini dikenal dengan nama COCOMO 81.
Pada tahun 1990, muncul suatu model estimasi baru yang disebut dengan COCOMO II. Secara umum referensi COCOMO sebelum 1995 merujuk pada original COCOMO model yaitu COCOMO 81, setelah itu merujuk pada COCOMO II.
COCOMO II diset sebagai siklus hidup software modern. Orgininal COCOMO model sudah sangat berhasil, tetapi tidak sesuai dengan praktek pengembangan software yang lebih baru sebagaimana dengan software tradisional. COCOMO II menargetkan proyek software pada tahun 1990an sampai 2000an dan akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan.
Sejarah Singkat Cocomo
COCOMO pertama kali diterbitkan pada tahun 1981 Barry Boehm W. ’s Book ekonomi Software engineering sebagai model untuk memperkirakan usaha, biaya, dan jadwal untuk proyek-proyek perangkat lunak. Ini menarik pada studi dari 63 proyek di TRW Aerospace mana Barry Boehm adalah Direktur Riset dan Teknologi Perangkat Lunak pada tahun 1981. Penelitian ini memeriksa proyek-proyek ukuran mulai dari 2.000 sampai 100.000 baris kode, dan bahasa pemrograman mulai dari perakitan untuk PL / I. Proyek-proyek ini didasarkan pada model pengembangan perangkat lunak waterfall yang merupakan proses software umum pembangunan di 1981.
Referensi untuk model ini biasanya menyebutnya COCOMO 81. Pada tahun 1997 COCOMO II telah dikembangkan dan akhirnya diterbitkan pada tahun 2000 dalam buku Estimasi Biaya COCOMO II Software dengan COCOMO II. adalah penerus dari COCOMO 81 dan lebih cocok untuk mengestimasi proyek pengembangan perangkat lunak modern. Hal ini memberikan lebih banyak dukungan untuk proses pengembangan perangkat lunak modern, dan basis data proyek diperbarui. Kebutuhan model baru datang sebagai perangkat lunak teknologi pengembangan pindah dari batch processing mainframe dan malam untuk pengembangan desktop, usabilitas kode dan penggunaan komponen software off-the-rak. Artikel ini merujuk pada COCOMO 81.
Pengertian Cocomo
COCOMO terdiri dari tiga bentuk hirarki semakin rinci dan akurat. Tingkat pertama, Basic COCOMO adalah baik untuk cepat, order awal, kasar estimasi besarnya biaya perangkat lunak, namun akurasinya terbatas karena kurangnya faktor untuk memperhitungkan perbedaan atribut proyek (Cost Drivers). Intermediate COCOMO mengambil Driver Biaya ini diperhitungkan dan Rincian tambahan COCOMO account untuk pengaruh fase proyek individu.

Ada tiga model cocomo, diantaranya ialah:

1. Dasar Cocomo

Dengan menggunakan estimasi parameter persamaan (dibedakan menurut tipe sistem yang berbeda) upaya pengembangan dan pembangunan durasi dihitung berdasarkan perkiraan DSI.
Dengan rincian untuk fase ini diwujudkan dalam persentase. Dalam hubungan ini dibedakan menurut tipe sistem (organik-batch, sebagian bersambung-on-line, embedded-real-time) dan ukuran proyek (kecil, menengah, sedang, besar, sangat besar).

Model COCOMO dapat diaplikasikan dalam tiga tingkatan kelas:

• Proyek organik (organic mode) Adalah proyek dengan ukuran relatif kecil, dengan anggota tim yang sudah berpengalaman, dan mampu bekerja pada permintaan yang relatif fleksibel.
• Proyek sedang (semi-detached mode)Merupakan proyek yang memiliki ukuran dan tingkat kerumitan yang sedang, dan tiap anggota tim memiliki tingkat keahlian yang berbeda
• Proyek terintegrasi (embedded mode)Proyek yang dibangun dengan spesifikasi dan operasi yang ketat

Model COCOMO dasar ditunjukkan dalam persamaan 1, 2, dan 3 berikut ini:

keterangan :
• E : besarnya usaha (orang-bulan)
• D : lama waktu pengerjaan (bulan)
• KLOC : estimasi jumlah baris kode (ribuan)
• P : jumlah orang yang diperlukan.

2. Intermediate Cocomo

Persamaan estimasi sekarang mempertimbangkan (terlepas dari DSI) 15 pengaruh faktor-faktor; ini adalah atribut produk (seperti kehandalan perangkat lunak, ukuran database, kompleksitas), komputer atribut-atribut (seperti pembatasan waktu komputasi, pembatasan memori utama), personil atribut ( seperti aplikasi pemrograman dan pengalaman, pengetahuan tentang bahasa pemrograman), dan proyek atribut (seperti lingkungan pengembangan perangkat lunak, tekanan waktu pengembangan). Tingkat pengaruh yang dapat diklasifikasikan sebagai sangat rendah, rendah, normal, tinggi, sangat tinggi, ekstra tinggi; para pengganda dapat dibaca dari tabel yang tersedia.

3. Detil Cocomo

Dalam hal ini adalah rincian untuk fase tidak diwujudkan dalam persentase, tetapi dengan cara faktor-faktor pengaruh dialokasikan untuk fase. Pada saat yang sama, maka dibedakan menurut tiga tingkatan hirarki produk (modul, subsistem, sistem), produk yang berhubungan dengan faktor-faktor pengaruh sekarang dipertimbangkan dalam persamaan estimasi yang sesuai. Selain itu detail cocomo dapat menghubungkan semua karakteristik versi intermediate dengan penilaian terhadap pengaruh pengendali biaya pada setiap langkah (analisis, perancangan, dll) dari proses rekayasa PL.

Sumber : http://yhu-dhie.blogspot.com dan warta warga gunadarma

AHMAD RIDWAN SIREGAR MLib

Di tengah kisah-kisah sedih berbagai perpustakaan kampus di Indonesia, Perpustakaan Universitas Sumatera Utara (USU) justru sangat menggairahkan. Kampus yang didirikan tahun 1952 itu memiliki sebuah perpustakaan berstandar internasional yang siap melayani pengunjungnya sejak pukul 09.00 sampai 21.00, baik hari kerja maupun libur. Bisa dikatakan, perpustakaan USU tidak pernah tutup.
Untuk melayani pengunjung, perpustakaan USU selain melayani dengan cara manual juga melayani dengan sistem jaringan pengaksesan melalui komputer (networking online) dari pencarian bahan sampai peminjaman. Pengaksesan melalui komputer ini bisa dilakukan di semua jurusan di USU, bahkan di mana pun di dunia ini lewat alamat web site http://library.usu.ac.id.
Dengan klik pada mouse, dalam tempo tak sampai satu menit judul buku atau biodata tentang seorang tokoh atau referensi tertulis yang kita butuhkan, misalnya, sudah tersedia di layar monitor komputer. Setelah judul buku atau judul jurnal ditemukan di layar, untuk meminjamnya tak sulit. Pelayanan manual dilakukan hanya dengan menunjukkan kartu tanda anggota kepada petugas pengecekan. Kemudian, barcode yang ada di buku diakses oleh komputer. Selesai. Begitu juga sebaliknya jika ingin mengembalikan buku yang dipinjam selama dua minggu tersebut. Sangat modern dan tidak berbelit-belit. Dengan cara yang komputerisasi ini, semua buku jelas terlacak jejaknya dan tercatat dengan baik.
Nama : Ahmad Ridwan Siregar MLib
Tempat Tanggal Lahir : Padang Sidempuan, 25 November 1953
Ahmad Ridwan Siregar MLib, yang menjadi "arsitek" atau "desainer" sistem perpustakaan USU ini. Ia memulai karier sebagai pustakawan di perpustakaan USU sejak tahun 1991, sekembali tugas belajar mengambil program studi perpustakaan di University of Wales, Inggris.
Padahal, ketika di Inggris itu ia mendapat tawaran langsung melanjutkan studi strata 3 (S3) di tempat yang sama oleh profesor ahli perpustakaan di kampusnya, Prof William Son. Bahkan untuk membujuk Ridwan Siregar agar mau melanjutkan lagi, kepada Ridwan Siregar khusus dikirim formulir pengisian persetujuan melanjutkan studi ke S3. Biasanya, sang mahasiswa yang memohon untuk mendapatkan formulir itu.
Ridwan menolak tawaran melanjutkan pendidikan tersebut dan lebih memilih menjadi kepala Perpustakaan USU sebagaimana ditawarkan Rektor USU-ketika itu M Yusuf Hanafiah. Ia merasa terpanggil untuk mengurus perpustakaan karena menurutnya sudah masanya USU memiliki perpustakaan yang representatif.
Menurut Ridwan, ia punya obsesi tersendiri tentang perpustakaan yang baik di almamaternya itu. Padahal, jabatan menjadi kepala perpustakaan hingga kini selalu diasumsikan sebagai tempat pembuangan para dosen karena tempatnya kering.
Ridwan mengakui tak mudah mereformasi perpustakaan di kampus USU. Ia harus bekerja keras melakukan pembaruan dari berbagai sudut. Dari manajemen perpustakaan saja sudah banyak hal harus dirombak. Juga, ia harus membuat struktur personalia dan pengaturan tata ruang perpustakaan yang ideal. Namun, yang paling membikin pusing katanya adalah masalah pendanaan atau budgeting perpustakaan.
Saat Ridwan datang kembali di USU tahun 1991, kondisi Perpustakaan USU tak jauh berbeda dari sekadar tempat penyimpanan buku-buku alias "gudang". Ia merasa sedih sekali sebab perpustakaan adalah salah satu jantung perguruan tinggi.
Umumnya, buruknya kondisi perpustakaan terjadi karena kondisi manajemen dan struktur personal perpustakaan tidak mendukung. Pada tahun 1991 itu di Perpustakaan USU hanya ada kepala perpustakaan dan kepala tata usaha ditambah staf beberapa orang. Dengan jumlah personel semacam ini tentu tak mungkin mampu mengurusi ratusan ribu buku untuk 20.000 mahasiswa dan 1.700 dosen.
Ayah dari seorang putra dan dua putri buah perkawinannya dengan Hasanah Lubis ini lalu bertekad harus berani mengubahnya secara total. Struktur manajemen pengurusan di perpustakaan bukan hanya ada di bawah seorang kepala perpustakaan dan kepala tata usaha saja, tetapi harus terbagi dalam sejumlah bagian yang berbeda-beda tugasnya.
Pembagian ini misalnya: tata usaha terdiri dari kesekretariatan, keuangan, kerumahtanggaan, sekuriti, dan penjaga tas. Kemudian ada sekretaris unit yang membawahi petugas bagian pengadaan, pengatalogan dan perawatan, serta pelayanan pengguna.
Ia juga melakukan penataan ruang baca, ruang buku, pengadaan buku, pengadaan jurnal, pengadaan bahan digital, pengatalogan buku, nonbuku, perawatan pustaka, sampai koleksi khusus.
Ketika Ridwan mulai memimpim perpustakaan USU, anggaran yang disediakan universitas hanya Rp 35 juta sampai Rp 40 juta setahun. Padahal, dalam standar internasional, anggaran belanja perpustakaan adalah sebesar enam persen dari total operasional sebuah perguruan tinggi (PT) yang artinya seharusnya berlipat kali dari jumlah 35 juta itu.
Hasil kerja keras Ridwan dan kawan-kawan tidaklah sia-sia. Perpustakaan USU bisa meraih peringkat terbaik di seluruh Indonesia dalam model manajemen dan operasional pada tahun 1995. Penilaian itu dilakukan oleh Higher Education Development Support bekerja sama dengan United State Agency for International Development.
Menurut Ridwan, jika ingin menjadikan perpustakaan sebagai pusat kebudayaan, tidak bisa tidak, anggaran perpustakaan harus dinaikkan enam persen. Oleh Rektor USU Prof Chairuddin P Lubis anggaran sebesar enam persen pun diwujudkan dengan memperoleh Rp 508,537 juta tahun 1996, kemudian naik tahun 2001 ini menjadi Rp 800 juta lebih.
Berdasarkan survei tahun 2000, indeks pengunjung perpustakaan USU meningkat tajam sebanyak 686.835 orang atau 13.000 lebih dalam seminggu. Padahal, tahun 1991 lalu jumlah pengunjung itu hanya 30.000 orang pertahun. Kenaikan 2.300 persen.
Sistem komputerisasi dijalankan sejak tahun 1996. Jumlah petugas kini 72 orang, (21 pustakawan, 15 pendidikan perpustakaan, tujuh pegawai, tujuh Satpam, dan belasan tenaga honorer) yang siap melayani.
Gedung perpustakaannya pun megah, berdiri di atas lahan seluas 6.000 meter persegi dengan bangunan empat tingkat. Kini di dalamnya tersedia 108.595 judul berbagai koleksi dalam jumlah 427.085 eksemplar. Koleksi ini meliputi buku, jurnal (cetak dan mikrofis), kaset audio, disket komputer, CD-Rom (database, multimedia dan fulltext), juga deposit USU.
Bahkan perpustakaan USU sejak tahun 2000 juga memiliki deposit (proceedings) Asian Development Bank dan deposit World Bank, yang tidak semua perpustakaan di perguruan tinggi Indonesia memilikinya.

Sumber :
http://www.infoperpus.8m.com/news/2001/02022001_2.htm

Senin, 09 Januari 2012

Layanan Context-Aware Yang Terdapat Pada Telematika (Telematics Services)

Mata Kuliah : Pengantar Telematika
Kelas : 4KA05
Anggota Kelompok :
Amilia Bismil, 10108180
Nadia Alfa Rhamanita, 11108396
Srie Mulia, 11108867
Yulita Syahputri, 12108289

http://duniamulia.blogspot.com/2012/01/layanan-context-aware-yang-terdapat.html

Jumat, 11 November 2011

Tugas SPK

Jawaban tugas SPK :

SPK 4KA05 11108396 Nadia Alfa Rhamanita

Selasa, 10 Mei 2011

Kalimat Deduksi secara Tidak Langsung

1. Silogisme Kategorial

Contoh Kalimat:
  • Semua Manusia memiliki sifat bijaksana
Orang Tua adalah Manusia

Jadi, Orang tua memiliki sifat bijaksana
  • Semua Bola adalah Bulat
Bulat adalah Bola

Jadi, Bola adalah Bulat

2. Silogisme Hipotesa

Contoh Kalimat :
  • Jika lapar pasti saya makan nasi.
Saya lapar saya makan.

Jadi saya makan nasi.

Jika tidak lapar, saya tidak makan nasi.

Tidak lapar tidak makan,

Jadi saya tidak makan nasi.

  • Jika kayu digergaji kayu patah
Kayu digergaji kayu patah

Jadi, kayu patah

Jika kayu tidakdigergaji, kayu tidak patah

tidak digergaji, tidak patah

Jadi kayu tidak patah

3. Silogisme Alternatif

Contoh Kalimat :
  • Saya akan berlibur ke Korea atau Jepang.
Saya berlibur ke Korea.

Jadi saya tidak akan berlibur ke Jepang.

  • Pak Budi adalah seorang pilot atau masinis
Pak Budi seorang pilot

jadi bukan masinis

4. Silogisme Entimen

Contoh Kalimat :
  • Saya makan karena saya lapar
  • jika ES di panaskan maka ES mencair
5. Rantai Deduksi

Contoh Kalimat :
  • Semua buah belimbing masam rasanya. (hasil generalisasi) Kali ini saya diberi lagi buah belimbing. Sebab it, buah belimbing ini juga pasti masam rasanya. (deduksi) Saya tidak suka akan buah-buahan yang masam rasanya. (induksi: generalisasi) Ini adalah buah belimbing masam. Sebab it, saya tidak suka buah belimbing ini (deduksi) Saya tidak suka makan apa saja, yang tidak saya senangi (induksi: generalisasi) Saya tidak suka buah ini. Sebab it saya tidak akan memakannya. (deduksi)

Senin, 09 Mei 2011

Kalimat Deduksi secara Langsung

A. Pola Kalimat :

Semua S adalah P.

Sebagian P adalah S.

Contoh kalimat :
  • Semua mobil adalah harganya mahal
Sebagian harga mobil adalah mahal
  • Semua kayu adalah pohon
Sebagian pohon adalah kayu


B. Pola Kalimat :

Tidak satupun S adalah P.

Tidak satupun P adalah S.

Contoh Kalimat :
  • Tidak satupun motor adalah mobil
Tidak satupun mobil adalah motor
  • Tidak semua laki – laki adalah jantan
Tidak semua jantan adalah laki – laki


C. Pola Kalimat :

Semua S adalah P.

Tidak satupun S adalah tidak P.

Contoh Kalimat :
  • Semua racun adalah berbahaya
Tidak satupun racun adalah tidak berbahaya
  • Semua HP adalah di charger
Tidak satupun HP adalah tak di charger


D. Pola Kalimat :

Tidak satupun S adalah P.

Semua S adalah tidak P.

Contoh Kalimat:
  • Tidak satupun robot adalah mahluk hidup
Semua robot adalah bukan mahluk hidup
  • Tidak satupun manusia adalah sempurna
Semua manusia adalah bukan sempurna


E. Pola Kalimat :

Semua S adalah P.

Tidak satupun S adalah tidak P.

Tidak satupun tidak P adalah S.

Contoh Kalimat:
  • semua sepeda adalah mempunyai ban
tidak satupun sepeda adalah mempunyai ban

tidak satupun tak mempunyai ban adalah sepeda
  • semua kalajengking adalah beracun
Tidak satupun kalajengking yang tak beracun

Tidak satupun yang tak beracun adalah kalajengking

Lima Pola Kalimat Induksi/Induktif

A. GENERALISASI

Generalisasi adalah penalaran induktif dengan cara menarik kesimpulan secara umum berdasarkan sejumlah data. Jumlah data atau peristiwa khusus yang dikemukakan harus cukup dan dapat mewakili.

Contoh :
Pemerintah telah menjadikan Pulau Komodo sebagai habitat pelestarian komodo. Di Ujung Kulon, pemerintah mebuat cagar alam untuk pelestarian badak bercula satu. Selain itu, sejumlah Undang-Undang dibuat untuk melindungi hewan langka dari incaran pemburu. Banyak cara yang telah dilakukan pemerintah untuk melestarikan hewan-hewan langka.

sumber : http://onan-kost.blogspot.com/2010/05/paragraf-generalisasi-analogi-dan.html


B. HIPOTESA

Pengertian : Silogisme hipotesis yaitu Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis.

Contoh :
My : jika tidak ada uang manusia sangat kesulitan tuk memenuhi kebutuhan hidupnya Mn : Uang tidak ada K : jadi, manusia akan kesulitan tuk memenuhi kebutuhan hidupnya

sumber: http://meinzet.blogspot.com/


C. HUBUNGAN KAUSALITAS

Berupa sebab sampai kepada kesimpulan yang merupakan akibat atau sebaliknya. Pada umumnya hubungan sebab akibat dapat berlangsungdalam tiga pola, yaitu sebab ke akibat, akibat ke sebab, dan akibat ke akibat. Namun, pola yang umum dipakai adalah sebab ke akibat dan akibat ke sebab. Ada 3 jenis hubungan kausal, yaitu:

  • Hubungan sebab-akibat.
Yaitu dimulai dengan mengemukakan fakta yang menjadi sebab dan sampai kepada kesimpulan yang menjadi akibat. Pada pola sebab ke akibat sebagai gagasan pokok adalah akibat, sedangkan sebab merupakan gagasan penjelas.

Contoh:
Anak-anak berumur 7 tahun mulai memasuki usia sekolah. Mereka mulai mengembangkan interaksi social dilingkungan tempatnya menimba ilmu. Mereka bergaul dengan teman-teman yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Dengan demikian, berbagai karakter anak mulai terlihat karena proses sosialisasi itu.

  • Hubungan akibat-sebab.
Yaitu dimulai dengan fakta yang menjadi akibat, kemudian dari fakta itu dianalisis untuk mencari sebabnya.

Contoh:
Dalam bergaul anak dapat berprilaku aktif. Sebaliknya, ada pula anak yang masih malu-malu dan selalu dan mengandalkan temannya. Namun, tidak dapat di pungkiri jika ada anak yang selalu mambuat ulah. Hal ini disebabkan oleh interaksi sosial yang dilakukan anak ketika memasuki usia sekolah.

  • Hubungan sebab-akibat1-akibat2
Yaitu dimulai dari suatu sebab yang dapat menimbulkan serangkaian akibat. Akibat pertama berubah menjadi sebab yang menimbulkan akibat kedua. Demikianlah seterusnya hingga timbul rangkaian beberapa akibat.

Contoh :
Mulai tanggal 2 april 1975 harga berbagai jenis minyak bumi dalam negeri naik. Minyak tanah, premium, solar, diesel, minyak pelumas, dan lain-lainnya dinaikan harganya, karena pemerintah ingin mengurangi subsidinya, dengan harapan supaya ekonomi Indonesia makin wajar. Karena harga bahan baker naik, sudah barang tentu biaya angkutanpun akan naik pula. Jika biaya angkutan naik, harga barang pasti akan ikut naik, karena biaya tambahan untuk transport harus diperhitungkan. Naiknya harga barang akan terasa berat untuk rakyat. Oleh karena itu, kenaikan harga barang dan jasa harus diimbangi dengan usaha menaikan pendapatan rakyat.

Sumber: http://zainal-muttaqin.blogspot.com/2010/03/penalaran-induktif.html


D. ANALOGI

Analogi adalah penalaran induktif dengan membandingkan dua hal yang banyak persamaannya. Berdasarkan persamaan kedua hal tersebut, Anda dapat menarik kesimpulan.

Contoh :
Para atlet memiliki latihan fisik yang keras guna membentuk otot-otot yang kuat dan lentur. Demikian juga dengan tentara, mereka memerlukan fisik yang kuat untuk melindungi masyarakat. Keduanya juga membutuhkan mental yang teguh untuk bertanding ataupun melawan musuh-musuh di lapangan. Oleh karena itu, untuk menjadi atlet dan tentara harus memiliki fisik dan mental yang kuat.

Sumber : http://onan-kost.blogspot.com/2010/05/paragraf-generalisasi-analogi-dan.html


E. INDUKSI DALAM METODE EKSPOSISI

Pengertian : salah satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang dimana isinya ditulis dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian dengan gaya penulisan yang singkat, akurat, dan padat.

Contoh :
Mulai tanggal 2 april 1975 harga berbagai jenis minyak bumi dalam negeri naik. Minyak tanah, premium, solar, diesel, minyak pelumas, dan lain-lainnya dinaikan harganya, karena pemerintah ingin mengurangi subsidinya, dengan harapan supaya ekonomi Indonesia makin wajar. Karena harga bahan baker naik, sudah barang tentu biaya angkutanpun akan naik pula. Jika biaya angkutan naik, harga barang pasti akan ikut naik, karena biaya tambahan untuk transport harus diperhitungkan. Naiknya harga barang akan terasa berat untuk rakyat. Oleh karena itu, kenaikan harga barang dan jasa harus diimbangi dengan usaha menaikan pendapatan rakyat.

Sumber: http://meinzet.blogspot.com/