COCOMO (Constructive Cost Model) dikembangkan pada tahun 1981, oleh
Barry Boehm memperkenalkan hirarki model estimasi PL dengan nama COCOMO,
Barry Boehm mendesain COCOMO untuk memberikan estimasi / perkiraan
jumlah Person-Months untuk mengembangkan suatu produk software.
Referensi pada model ini dikenal dengan nama COCOMO 81.
Pada tahun
1990, muncul suatu model estimasi baru yang disebut dengan COCOMO II.
Secara umum referensi COCOMO sebelum 1995 merujuk pada original COCOMO
model yaitu COCOMO 81, setelah itu merujuk pada COCOMO II.
COCOMO II
diset sebagai siklus hidup software modern. Orgininal COCOMO model sudah
sangat berhasil, tetapi tidak sesuai dengan praktek pengembangan
software yang lebih baru sebagaimana dengan software tradisional. COCOMO
II menargetkan proyek software pada tahun 1990an sampai 2000an dan akan
terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan.
Sejarah Singkat Cocomo
COCOMO
pertama kali diterbitkan pada tahun 1981 Barry Boehm W. ’s Book ekonomi
Software engineering sebagai model untuk memperkirakan usaha, biaya,
dan jadwal untuk proyek-proyek perangkat lunak. Ini menarik pada studi
dari 63 proyek di TRW Aerospace mana Barry Boehm adalah Direktur Riset
dan Teknologi Perangkat Lunak pada tahun 1981. Penelitian ini memeriksa
proyek-proyek ukuran mulai dari 2.000 sampai 100.000 baris kode, dan
bahasa pemrograman mulai dari perakitan untuk PL / I. Proyek-proyek ini
didasarkan pada model pengembangan perangkat lunak waterfall yang
merupakan proses software umum pembangunan di 1981.
Referensi untuk
model ini biasanya menyebutnya COCOMO 81. Pada tahun 1997 COCOMO II
telah dikembangkan dan akhirnya diterbitkan pada tahun 2000 dalam buku
Estimasi Biaya COCOMO II Software dengan COCOMO II. adalah penerus dari
COCOMO 81 dan lebih cocok untuk mengestimasi proyek pengembangan
perangkat lunak modern. Hal ini memberikan lebih banyak dukungan untuk
proses pengembangan perangkat lunak modern, dan basis data proyek
diperbarui. Kebutuhan model baru datang sebagai perangkat lunak
teknologi pengembangan pindah dari batch processing mainframe dan malam
untuk pengembangan desktop, usabilitas kode dan penggunaan komponen
software off-the-rak. Artikel ini merujuk pada COCOMO 81.
Pengertian Cocomo
COCOMO
terdiri dari tiga bentuk hirarki semakin rinci dan akurat. Tingkat
pertama, Basic COCOMO adalah baik untuk cepat, order awal, kasar
estimasi besarnya biaya perangkat lunak, namun akurasinya terbatas
karena kurangnya faktor untuk memperhitungkan perbedaan atribut proyek
(Cost Drivers). Intermediate COCOMO mengambil Driver Biaya ini
diperhitungkan dan Rincian tambahan COCOMO account untuk pengaruh fase
proyek individu.
Ada tiga model cocomo, diantaranya ialah:
1. Dasar Cocomo
Dengan
menggunakan estimasi parameter persamaan (dibedakan menurut tipe sistem
yang berbeda) upaya pengembangan dan pembangunan durasi dihitung
berdasarkan perkiraan DSI.
Dengan rincian untuk fase ini diwujudkan
dalam persentase. Dalam hubungan ini dibedakan menurut tipe sistem
(organik-batch, sebagian bersambung-on-line, embedded-real-time) dan
ukuran proyek (kecil, menengah, sedang, besar, sangat besar).
Model COCOMO dapat diaplikasikan dalam tiga tingkatan kelas:
•
Proyek organik (organic mode) Adalah proyek dengan ukuran relatif
kecil, dengan anggota tim yang sudah berpengalaman, dan mampu bekerja
pada permintaan yang relatif fleksibel.
• Proyek sedang
(semi-detached mode)Merupakan proyek yang memiliki ukuran dan tingkat
kerumitan yang sedang, dan tiap anggota tim memiliki tingkat keahlian
yang berbeda
• Proyek terintegrasi (embedded mode)Proyek yang dibangun dengan spesifikasi dan operasi yang ketat
Model COCOMO dasar ditunjukkan dalam persamaan 1, 2, dan 3 berikut ini:
keterangan :
• E : besarnya usaha (orang-bulan)
• D : lama waktu pengerjaan (bulan)
• KLOC : estimasi jumlah baris kode (ribuan)
• P : jumlah orang yang diperlukan.
2. Intermediate Cocomo
Persamaan
estimasi sekarang mempertimbangkan (terlepas dari DSI) 15 pengaruh
faktor-faktor; ini adalah atribut produk (seperti kehandalan perangkat
lunak, ukuran database, kompleksitas), komputer atribut-atribut (seperti
pembatasan waktu komputasi, pembatasan memori utama), personil atribut (
seperti aplikasi pemrograman dan pengalaman, pengetahuan tentang bahasa
pemrograman), dan proyek atribut (seperti lingkungan pengembangan
perangkat lunak, tekanan waktu pengembangan). Tingkat pengaruh yang
dapat diklasifikasikan sebagai sangat rendah, rendah, normal, tinggi,
sangat tinggi, ekstra tinggi; para pengganda dapat dibaca dari tabel
yang tersedia.
3. Detil Cocomo
Dalam hal ini adalah
rincian untuk fase tidak diwujudkan dalam persentase, tetapi dengan cara
faktor-faktor pengaruh dialokasikan untuk fase. Pada saat yang sama,
maka dibedakan menurut tiga tingkatan hirarki produk (modul, subsistem,
sistem), produk yang berhubungan dengan faktor-faktor pengaruh sekarang
dipertimbangkan dalam persamaan estimasi yang sesuai. Selain itu detail
cocomo dapat menghubungkan semua karakteristik versi intermediate dengan
penilaian terhadap pengaruh pengendali biaya pada setiap langkah
(analisis, perancangan, dll) dari proses rekayasa PL.
Sumber : http://yhu-dhie.blogspot.com dan warta warga gunadarma
Selasa, 01 Mei 2012
AHMAD RIDWAN SIREGAR MLib
Di
tengah kisah-kisah sedih berbagai perpustakaan kampus di Indonesia,
Perpustakaan Universitas Sumatera Utara (USU) justru sangat
menggairahkan. Kampus yang didirikan tahun 1952 itu memiliki sebuah
perpustakaan berstandar internasional yang siap melayani pengunjungnya
sejak pukul 09.00 sampai 21.00, baik hari kerja maupun libur. Bisa
dikatakan, perpustakaan USU tidak pernah tutup.
Untuk
melayani pengunjung, perpustakaan USU selain melayani dengan cara
manual juga melayani dengan sistem jaringan pengaksesan melalui komputer
(networking online) dari pencarian bahan sampai peminjaman. Pengaksesan
melalui komputer ini bisa dilakukan di semua jurusan di USU, bahkan di
mana pun di dunia ini lewat alamat web site http://library.usu.ac.id.
Dengan
klik pada mouse, dalam tempo tak sampai satu menit judul buku atau
biodata tentang seorang tokoh atau referensi tertulis yang kita
butuhkan, misalnya, sudah tersedia di layar monitor komputer. Setelah
judul buku atau judul jurnal ditemukan di layar, untuk meminjamnya tak
sulit. Pelayanan manual dilakukan hanya dengan menunjukkan kartu tanda
anggota kepada petugas pengecekan. Kemudian, barcode yang ada di buku
diakses oleh komputer. Selesai. Begitu juga sebaliknya jika ingin
mengembalikan buku yang dipinjam selama dua minggu tersebut. Sangat
modern dan tidak berbelit-belit. Dengan cara yang komputerisasi ini, semua buku jelas terlacak jejaknya dan tercatat dengan baik.
Nama : Ahmad Ridwan Siregar MLib
Tempat Tanggal Lahir : Padang Sidempuan, 25 November 1953
Ahmad Ridwan Siregar MLib, yang
menjadi "arsitek" atau "desainer" sistem perpustakaan USU ini. Ia
memulai karier sebagai pustakawan di perpustakaan USU sejak tahun 1991,
sekembali tugas belajar mengambil program studi perpustakaan di
University of Wales, Inggris.
Padahal,
ketika di Inggris itu ia mendapat tawaran langsung melanjutkan studi
strata 3 (S3) di tempat yang sama oleh profesor ahli perpustakaan di
kampusnya, Prof William Son. Bahkan untuk membujuk Ridwan Siregar agar
mau melanjutkan lagi, kepada Ridwan Siregar khusus dikirim formulir
pengisian persetujuan melanjutkan studi ke S3. Biasanya, sang mahasiswa
yang memohon untuk mendapatkan formulir itu.
Ridwan
menolak tawaran melanjutkan pendidikan tersebut dan lebih memilih
menjadi kepala Perpustakaan USU sebagaimana ditawarkan Rektor USU-ketika
itu M Yusuf Hanafiah. Ia merasa terpanggil untuk mengurus perpustakaan
karena menurutnya sudah masanya USU memiliki perpustakaan yang
representatif.
Menurut
Ridwan, ia punya obsesi tersendiri tentang perpustakaan yang baik di
almamaternya itu. Padahal, jabatan menjadi kepala perpustakaan hingga
kini selalu diasumsikan sebagai tempat pembuangan para dosen karena
tempatnya kering.
Ridwan
mengakui tak mudah mereformasi perpustakaan di kampus USU. Ia harus
bekerja keras melakukan pembaruan dari berbagai sudut. Dari manajemen
perpustakaan saja sudah banyak hal harus dirombak. Juga, ia harus
membuat struktur personalia dan pengaturan tata ruang perpustakaan yang
ideal. Namun, yang paling membikin pusing katanya adalah masalah
pendanaan atau budgeting perpustakaan.
Saat Ridwan
datang kembali di USU tahun 1991, kondisi Perpustakaan USU tak jauh
berbeda dari sekadar tempat penyimpanan buku-buku alias "gudang". Ia merasa sedih sekali sebab perpustakaan adalah salah satu jantung perguruan tinggi.
Umumnya,
buruknya kondisi perpustakaan terjadi karena kondisi manajemen dan
struktur personal perpustakaan tidak mendukung. Pada tahun 1991 itu di
Perpustakaan USU hanya ada kepala perpustakaan dan kepala tata usaha
ditambah staf beberapa orang. Dengan jumlah personel semacam ini tentu
tak mungkin mampu mengurusi ratusan ribu buku untuk 20.000 mahasiswa dan
1.700 dosen.
Ayah
dari seorang putra dan dua putri buah perkawinannya dengan Hasanah
Lubis ini lalu bertekad harus berani mengubahnya secara total. Struktur
manajemen pengurusan di perpustakaan bukan hanya ada di bawah seorang
kepala perpustakaan dan kepala tata usaha saja, tetapi harus terbagi
dalam sejumlah bagian yang berbeda-beda tugasnya.
Pembagian
ini misalnya: tata usaha terdiri dari kesekretariatan, keuangan,
kerumahtanggaan, sekuriti, dan penjaga tas. Kemudian ada sekretaris unit
yang membawahi petugas bagian pengadaan, pengatalogan dan perawatan,
serta pelayanan pengguna.
Ia juga
melakukan penataan ruang baca, ruang buku, pengadaan buku, pengadaan
jurnal, pengadaan bahan digital, pengatalogan buku, nonbuku, perawatan
pustaka, sampai koleksi khusus.
Ketika Ridwan
mulai memimpim perpustakaan USU, anggaran yang disediakan universitas
hanya Rp 35 juta sampai Rp 40 juta setahun. Padahal, dalam standar
internasional, anggaran belanja perpustakaan adalah sebesar enam persen
dari total operasional sebuah perguruan tinggi (PT) yang artinya
seharusnya berlipat kali dari jumlah 35 juta itu.
Hasil
kerja keras Ridwan dan kawan-kawan tidaklah sia-sia. Perpustakaan USU
bisa meraih peringkat terbaik di seluruh Indonesia dalam model manajemen
dan operasional pada tahun 1995. Penilaian itu dilakukan oleh Higher
Education Development Support bekerja sama dengan United State Agency
for International Development.
Menurut Ridwan, jika
ingin menjadikan perpustakaan sebagai pusat kebudayaan, tidak bisa
tidak, anggaran perpustakaan harus dinaikkan enam persen. Oleh Rektor
USU Prof Chairuddin P Lubis anggaran sebesar enam persen pun diwujudkan
dengan memperoleh Rp 508,537 juta tahun 1996, kemudian naik tahun 2001
ini menjadi Rp 800 juta lebih.
Berdasarkan survei
tahun 2000, indeks pengunjung perpustakaan USU meningkat tajam sebanyak
686.835 orang atau 13.000 lebih dalam seminggu. Padahal, tahun 1991
lalu jumlah pengunjung itu hanya 30.000 orang pertahun. Kenaikan 2.300
persen.
Sistem
komputerisasi dijalankan sejak tahun 1996. Jumlah petugas kini 72
orang, (21 pustakawan, 15 pendidikan perpustakaan, tujuh pegawai, tujuh
Satpam, dan belasan tenaga honorer) yang siap melayani.
Gedung
perpustakaannya pun megah, berdiri di atas lahan seluas 6.000 meter
persegi dengan bangunan empat tingkat. Kini di dalamnya tersedia 108.595
judul berbagai koleksi dalam jumlah 427.085 eksemplar. Koleksi ini
meliputi buku, jurnal (cetak dan mikrofis), kaset audio, disket
komputer, CD-Rom (database, multimedia dan fulltext), juga deposit USU.
Bahkan
perpustakaan USU sejak tahun 2000 juga memiliki deposit (proceedings)
Asian Development Bank dan deposit World Bank, yang tidak semua
perpustakaan di perguruan tinggi Indonesia memilikinya.
Sumber :
http://www.infoperpus.8m.com/news/2001/02022001_2.htm
Senin, 09 Januari 2012
Layanan Context-Aware Yang Terdapat Pada Telematika (Telematics Services)
Mata Kuliah : Pengantar Telematika
Kelas : 4KA05
Anggota Kelompok :
Amilia Bismil, 10108180
Nadia Alfa Rhamanita, 11108396
Srie Mulia, 11108867
Yulita Syahputri, 12108289
http://duniamulia.blogspot.com/2012/01/layanan-context-aware-yang-terdapat.html
Kelas : 4KA05
Anggota Kelompok :
Amilia Bismil, 10108180
Nadia Alfa Rhamanita, 11108396
Srie Mulia, 11108867
Yulita Syahputri, 12108289
http://duniamulia.blogspot.com/2012/01/layanan-context-aware-yang-terdapat.html
Jumat, 11 November 2011
Selasa, 10 Mei 2011
Kalimat Deduksi secara Tidak Langsung
1. Silogisme Kategorial
Contoh Kalimat:
Jadi, Orang tua memiliki sifat bijaksana
Jadi, Bola adalah Bulat
2. Silogisme Hipotesa
Contoh Kalimat :
Jadi saya makan nasi.
Jika tidak lapar, saya tidak makan nasi.
Tidak lapar tidak makan,
Jadi saya tidak makan nasi.
Jadi, kayu patah
Jika kayu tidakdigergaji, kayu tidak patah
tidak digergaji, tidak patah
Jadi kayu tidak patah
3. Silogisme Alternatif
Contoh Kalimat :
Jadi saya tidak akan berlibur ke Jepang.
jadi bukan masinis
4. Silogisme Entimen
Contoh Kalimat :
Contoh Kalimat :
Contoh Kalimat:
- Semua Manusia memiliki sifat bijaksana
Jadi, Orang tua memiliki sifat bijaksana
- Semua Bola adalah Bulat
Jadi, Bola adalah Bulat
2. Silogisme Hipotesa
Contoh Kalimat :
- Jika lapar pasti saya makan nasi.
Jadi saya makan nasi.
Jika tidak lapar, saya tidak makan nasi.
Tidak lapar tidak makan,
Jadi saya tidak makan nasi.
- Jika kayu digergaji kayu patah
Jadi, kayu patah
Jika kayu tidakdigergaji, kayu tidak patah
tidak digergaji, tidak patah
Jadi kayu tidak patah
3. Silogisme Alternatif
Contoh Kalimat :
- Saya akan berlibur ke Korea atau Jepang.
Jadi saya tidak akan berlibur ke Jepang.
- Pak Budi adalah seorang pilot atau masinis
jadi bukan masinis
4. Silogisme Entimen
Contoh Kalimat :
- Saya makan karena saya lapar
- jika ES di panaskan maka ES mencair
Contoh Kalimat :
- Semua buah belimbing masam rasanya. (hasil generalisasi) Kali ini saya diberi lagi buah belimbing. Sebab it, buah belimbing ini juga pasti masam rasanya. (deduksi) Saya tidak suka akan buah-buahan yang masam rasanya. (induksi: generalisasi) Ini adalah buah belimbing masam. Sebab it, saya tidak suka buah belimbing ini (deduksi) Saya tidak suka makan apa saja, yang tidak saya senangi (induksi: generalisasi) Saya tidak suka buah ini. Sebab it saya tidak akan memakannya. (deduksi)
Senin, 09 Mei 2011
Kalimat Deduksi secara Langsung
A. Pola Kalimat :
B. Pola Kalimat :
C. Pola Kalimat :
D. Pola Kalimat :
E. Pola Kalimat :
tidak satupun tak mempunyai ban adalah sepeda
Tidak satupun yang tak beracun adalah kalajengking
Semua S adalah P.
Sebagian P adalah S.
Contoh kalimat :- Semua mobil adalah harganya mahal
- Semua kayu adalah pohon
B. Pola Kalimat :
Tidak satupun S adalah P.
Tidak satupun P adalah S.
Contoh Kalimat :- Tidak satupun motor adalah mobil
- Tidak semua laki – laki adalah jantan
C. Pola Kalimat :
Semua S adalah P.
Tidak satupun S adalah tidak P.
Contoh Kalimat :- Semua racun adalah berbahaya
- Semua HP adalah di charger
D. Pola Kalimat :
Tidak satupun S adalah P.
Semua S adalah tidak P.
Contoh Kalimat:- Tidak satupun robot adalah mahluk hidup
- Tidak satupun manusia adalah sempurna
E. Pola Kalimat :
Semua S adalah P.
Tidak satupun S adalah tidak P.
Tidak satupun tidak P adalah S.
Contoh Kalimat:- semua sepeda adalah mempunyai ban
tidak satupun tak mempunyai ban adalah sepeda
- semua kalajengking adalah beracun
Tidak satupun yang tak beracun adalah kalajengking
Lima Pola Kalimat Induksi/Induktif
A. GENERALISASI
Contoh :
Generalisasi adalah penalaran induktif dengan cara menarik kesimpulan secara umum berdasarkan sejumlah data. Jumlah data atau peristiwa khusus yang dikemukakan harus cukup dan dapat mewakili.
Contoh :
Pemerintah telah menjadikan Pulau Komodo sebagai habitat pelestarian komodo. Di Ujung Kulon, pemerintah mebuat cagar alam untuk pelestarian badak bercula satu. Selain itu, sejumlah Undang-Undang dibuat untuk melindungi hewan langka dari incaran pemburu. Banyak cara yang telah dilakukan pemerintah untuk melestarikan hewan-hewan langka.
sumber : http://onan-kost.blogspot.com/2010/05/paragraf-generalisasi-analogi-dan.html
B. HIPOTESA
Pengertian : Silogisme hipotesis yaitu Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis.
Contoh :
My : jika tidak ada uang manusia sangat kesulitan tuk memenuhi kebutuhan hidupnya Mn : Uang tidak ada K : jadi, manusia akan kesulitan tuk memenuhi kebutuhan hidupnya
sumber: http://meinzet.blogspot.com/
C. HUBUNGAN KAUSALITAS
Berupa sebab sampai kepada kesimpulan yang merupakan akibat atau sebaliknya. Pada umumnya hubungan sebab akibat dapat berlangsungdalam tiga pola, yaitu sebab ke akibat, akibat ke sebab, dan akibat ke akibat. Namun, pola yang umum dipakai adalah sebab ke akibat dan akibat ke sebab. Ada 3 jenis hubungan kausal, yaitu:
Contoh:
Anak-anak berumur 7 tahun mulai memasuki usia sekolah. Mereka mulai mengembangkan interaksi social dilingkungan tempatnya menimba ilmu. Mereka bergaul dengan teman-teman yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Dengan demikian, berbagai karakter anak mulai terlihat karena proses sosialisasi itu.
Contoh:
Dalam bergaul anak dapat berprilaku aktif. Sebaliknya, ada pula anak yang masih malu-malu dan selalu dan mengandalkan temannya. Namun, tidak dapat di pungkiri jika ada anak yang selalu mambuat ulah. Hal ini disebabkan oleh interaksi sosial yang dilakukan anak ketika memasuki usia sekolah.
Contoh :
Mulai tanggal 2 april 1975 harga berbagai jenis minyak bumi dalam negeri naik. Minyak tanah, premium, solar, diesel, minyak pelumas, dan lain-lainnya dinaikan harganya, karena pemerintah ingin mengurangi subsidinya, dengan harapan supaya ekonomi Indonesia makin wajar. Karena harga bahan baker naik, sudah barang tentu biaya angkutanpun akan naik pula. Jika biaya angkutan naik, harga barang pasti akan ikut naik, karena biaya tambahan untuk transport harus diperhitungkan. Naiknya harga barang akan terasa berat untuk rakyat. Oleh karena itu, kenaikan harga barang dan jasa harus diimbangi dengan usaha menaikan pendapatan rakyat.
Sumber: http://zainal-muttaqin.blogspot.com/2010/03/penalaran-induktif.html
D. ANALOGI
Sumber : http://onan-kost.blogspot.com/2010/05/paragraf-generalisasi-analogi-dan.html
E. INDUKSI DALAM METODE EKSPOSISI
Pengertian : salah satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang dimana isinya ditulis dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian dengan gaya penulisan yang singkat, akurat, dan padat.
Contoh :
Mulai tanggal 2 april 1975 harga berbagai jenis minyak bumi dalam negeri naik. Minyak tanah, premium, solar, diesel, minyak pelumas, dan lain-lainnya dinaikan harganya, karena pemerintah ingin mengurangi subsidinya, dengan harapan supaya ekonomi Indonesia makin wajar. Karena harga bahan baker naik, sudah barang tentu biaya angkutanpun akan naik pula. Jika biaya angkutan naik, harga barang pasti akan ikut naik, karena biaya tambahan untuk transport harus diperhitungkan. Naiknya harga barang akan terasa berat untuk rakyat. Oleh karena itu, kenaikan harga barang dan jasa harus diimbangi dengan usaha menaikan pendapatan rakyat.
Sumber: http://meinzet.blogspot.com/
sumber : http://onan-kost.blogspot.com/2010/05/paragraf-generalisasi-analogi-dan.html
B. HIPOTESA
Pengertian : Silogisme hipotesis yaitu Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis.
Contoh :
My : jika tidak ada uang manusia sangat kesulitan tuk memenuhi kebutuhan hidupnya Mn : Uang tidak ada K : jadi, manusia akan kesulitan tuk memenuhi kebutuhan hidupnya
sumber: http://meinzet.blogspot.com/
C. HUBUNGAN KAUSALITAS
Berupa sebab sampai kepada kesimpulan yang merupakan akibat atau sebaliknya. Pada umumnya hubungan sebab akibat dapat berlangsungdalam tiga pola, yaitu sebab ke akibat, akibat ke sebab, dan akibat ke akibat. Namun, pola yang umum dipakai adalah sebab ke akibat dan akibat ke sebab. Ada 3 jenis hubungan kausal, yaitu:
- Hubungan sebab-akibat.
Contoh:
Anak-anak berumur 7 tahun mulai memasuki usia sekolah. Mereka mulai mengembangkan interaksi social dilingkungan tempatnya menimba ilmu. Mereka bergaul dengan teman-teman yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Dengan demikian, berbagai karakter anak mulai terlihat karena proses sosialisasi itu.
- Hubungan akibat-sebab.
Contoh:
Dalam bergaul anak dapat berprilaku aktif. Sebaliknya, ada pula anak yang masih malu-malu dan selalu dan mengandalkan temannya. Namun, tidak dapat di pungkiri jika ada anak yang selalu mambuat ulah. Hal ini disebabkan oleh interaksi sosial yang dilakukan anak ketika memasuki usia sekolah.
- Hubungan sebab-akibat1-akibat2
Contoh :
Mulai tanggal 2 april 1975 harga berbagai jenis minyak bumi dalam negeri naik. Minyak tanah, premium, solar, diesel, minyak pelumas, dan lain-lainnya dinaikan harganya, karena pemerintah ingin mengurangi subsidinya, dengan harapan supaya ekonomi Indonesia makin wajar. Karena harga bahan baker naik, sudah barang tentu biaya angkutanpun akan naik pula. Jika biaya angkutan naik, harga barang pasti akan ikut naik, karena biaya tambahan untuk transport harus diperhitungkan. Naiknya harga barang akan terasa berat untuk rakyat. Oleh karena itu, kenaikan harga barang dan jasa harus diimbangi dengan usaha menaikan pendapatan rakyat.
Sumber: http://zainal-muttaqin.blogspot.com/2010/03/penalaran-induktif.html
D. ANALOGI
Analogi adalah penalaran induktif dengan membandingkan dua hal yang banyak persamaannya. Berdasarkan persamaan kedua hal tersebut, Anda dapat menarik kesimpulan.
Contoh :
Para atlet memiliki latihan fisik yang keras guna membentuk otot-otot yang kuat dan lentur. Demikian juga dengan tentara, mereka memerlukan fisik yang kuat untuk melindungi masyarakat. Keduanya juga membutuhkan mental yang teguh untuk bertanding ataupun melawan musuh-musuh di lapangan. Oleh karena itu, untuk menjadi atlet dan tentara harus memiliki fisik dan mental yang kuat.Sumber : http://onan-kost.blogspot.com/2010/05/paragraf-generalisasi-analogi-dan.html
E. INDUKSI DALAM METODE EKSPOSISI
Pengertian : salah satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang dimana isinya ditulis dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian dengan gaya penulisan yang singkat, akurat, dan padat.
Contoh :
Mulai tanggal 2 april 1975 harga berbagai jenis minyak bumi dalam negeri naik. Minyak tanah, premium, solar, diesel, minyak pelumas, dan lain-lainnya dinaikan harganya, karena pemerintah ingin mengurangi subsidinya, dengan harapan supaya ekonomi Indonesia makin wajar. Karena harga bahan baker naik, sudah barang tentu biaya angkutanpun akan naik pula. Jika biaya angkutan naik, harga barang pasti akan ikut naik, karena biaya tambahan untuk transport harus diperhitungkan. Naiknya harga barang akan terasa berat untuk rakyat. Oleh karena itu, kenaikan harga barang dan jasa harus diimbangi dengan usaha menaikan pendapatan rakyat.
Sumber: http://meinzet.blogspot.com/
Langganan:
Postingan (Atom)
